Fenomena Emak-Emak Ngonten: Ketika Panci dan Spatula Berkolaborasi dengan Ring Light
Dulu, musuh terbesar kita saat pulang sekolah adalah kalau lupa angkat jemuran atau belum cuci piring. Tapi sekarang? Musuh terbesar kita adalah saat mau ambil gorengan di meja makan, lalu tiba-tiba ada tangan yang menepis sambil teriak: "JANGAN DIMAKAN DULU! MAMA BELUM VIDEOIN BUAT KONTEN!"
Ya, selamat datang di era The Power of Emak-Emak 2.0: Edisi Content Creator.
1. POV: Semuanya Adalah Konten
Bagi emak-emak zaman now, tidak ada momen yang boleh terbuang sia-sia.
Masak kangkung? Konten. * Belanja sayur di abang gerobak? Review jujur. * Marahin anak karena main HP terus? Dibuat POV (Point of View).
Kadang kita sebagai anak bingung, ini Mama lagi marah beneran atau lagi akting demi engagement? Mana kalau lagi rekam suara (voice over), suaranya mendadak jadi lembut ala-ala pembawa berita, padahal lima menit sebelumnya suaranya oktaf tinggi manggil kita buat mandi.
2. Peralatan Tempur yang Mengalahkan Fotografer Pro
Kalau dulu koleksi emak adalah Tupperware (yang kalau hilang satu, dunia kiamat), sekarang koleksinya bertambah:
Ring Light yang terpasang permanen di dapur.
Tripod yang sering dikira jemuran handuk kecil.
Microphone clip-on biar suara "sreng" pas numis bawang terdengar estetik (ASMR, katanya).
Jangan heran kalau dapur sekarang lebih terang daripada masa depan kita, karena lampu 50 watt menyala di setiap sudut demi hasil video yang glowing.
3. Hastag: Curhatan Terselubung
Yang paling juara dari fenomena ini adalah penggunaan hashtag dan caption-nya. Kontennya sih cuma video lagi nyapu, tapi caption-nya:
"Sabar itu tidak ada batasnya, seperti debu yang nggak abis-abis. Semangat para pejuang rupiah dan pejuang daster! #MasyaAllahTabarakallah #RumahMinimalis #SuamiSayangIstri #CuanDariRumah."
Admin media sosial profesional pun minder lihat ketekunan emak-emak ini riset hashtag demi masuk ke halaman Explore atau FYP.
4. Anak dan Suami: Kru Film Dadakan
Menjadi anggota keluarga dari emak yang ngonten berarti Anda otomatis menjadi kru film tanpa gaji.
Anak: Jadi kameramen cadangan atau objek penderita di konten "A Day in My Life".
Bapak: Jadi asisten pencahayaan atau bagian akting "Suami yang senang dipasakin".
Kalau bapak-bapak mukanya kelihatan agak tertekan di video, tolong dimaklumi. Mungkin dia sudah take 15 kali cuma buat adegan makan satu suap nasi goreng.
Kesimpulan
Meski kadang bikin geleng-geleng kepala, fenomena emak-emak ngonten ini sebenarnya keren, lho. Ini membuktikan kalau kreativitas itu nggak kenal umur. Dari dasteran di dapur, mereka bisa punya komunitas, dapat teman baru, bahkan sampai dapat endorse panci atau deterjen.
Jadi, buat kalian para anak, dukunglah hobi baru Mama. Minimal bantu like, komen, dan share. Daripada kalian disuruh bantu masak beneran, mending bantu megangin handphone, kan?
Gimana, Mak? Sudah siap buat konten hari ini? Jangan lupa cek baterai HP, jangan sampai pas lagi klimaks goreng bakwan, HP-nya mati!
#EmakEmakNgonten #DramaDapur #KontenKreator #FenomenaSosmed #ThePowerOfEmakEmak #AdayInMyLife #HumorIndonesia #CuanDariDapur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar